oleh

Gara-Gara Ustadz Yunahar, Saya Sempat ‘Marah’

Oleh: Syakir Jamaluddin

Salah satu pesan Ustadz Yunahar kepada saya, “Kir” (begitu biasa beliau memanggil saya), jadi muballigh itu jangan pernah mengharap bayaran dari orang atau jamaah, tapi lakukan semua karena Allah, karena Allah itu Maha Kaya.”

Ini yang menyebabkan saya dan murid-murid beliau lainnya tidak pernah minta bayaran atau pasang tarif, apalagi sampai tawar-menawar harga kalau diminta ngisi pengajian atau ngajar di manapun.

Saya sempat “marah” ketika ada jamaah yang mau mengundang saya tapi menanyakan tarif. Saya bilang, “Anda jangan menghina saya!”

Gara-gara nasihat Ustadz Yun yang membekas dalam pada diri kami sehingga saya sempat marah dengan jamaah yang menanyakan tarif ngisi pengajian. Kami ditempa Ustadz kami sejak di Mu’allimien Jogja untuk tidak pernah minta bayaran manusia untuk dakwah yang kami lakukan.

Pesan yang sama pernah disampaikan oleh Ustadz M. Suprapto Ibnu Juraimi, Direktur Mu’allimien saat Ustadz Yun jadi guru di sana. Pada saat kami mau diterjunkan sebagai muballigh, “Bagaimana perasaanmu jika kalian datang ngisi pengajian tapi yg hadir hanya sedikit 1-2 orang saja, apakah kamu sedih dan hilang semangat?” Lanjut kata Pak Prapto, “Kalau kamu sedih dan menjadi kurang semangat dalam berdakwah karena jamaah yg menyambut kamu hanya sedikit, kamu belum layak jadi muballigh.”

Saya tersentak dengan nasihat dua guru saya ini. Padahal sangat wajar bila kita bersedih karena jamaah yg datang mengaji hanya sedikit, cuma memang tidak boleh hilang semangat.
Ya Allah dua guru kami ini telah menanamkan “virus kebaikan” pada diri kami dan keduanya telah Engkau panggil ke haribaan-Mu. Doa kami, “Ya Allah, alirkan pahala pada guru2 kami dan keluarga yg mendukungnya atas dakwah dan amal kebaikan yg kami lakukan. Ampuni mereka, sayangi mereka, dan masukkan mereka dalam sorgaMu.” Aamiiin 🤲😢

(Mengenang Ustadz Yun, Awal Januari, 2020)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *