oleh

Kasus Kekerasan Seksual di Ranah Komunitas: Pentingnya Membangun Kesadaran Organisasi yang Kuat Melawan Kekerasan Seksual

-Opini-73 views

Oleh: Frisca Wulandari dan Tati Sedfar

Kekerasan seksual terhadap perempuan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah Indonesia. Pelecehan dan kekerasan seksual pada dasarnya merupakan kenyataan yang ada dalam masyarakat kita hingga dewasa ini, bahwa tindak kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi kepada siapapun, kapanpun, dan di manapun. Tak terkecuali pada ranah publik dan komunitas.

Kekerasan seksual berhubungan dengan relasi kuasa yang timpang, karena struktur sosial yang tidak adil gender. Dalam hal ini, kekerasan seksual rentan terjadi terhadap perempuan, sebab perempuan seringkali mengalami subordinasi dalam menentukan apa yang ia kehendaki dan tidak dalam struktur sosial yang timpang tersebut. Selain itu juga seringkali ditinggalkan dalam aksesnya pada pendidikan, informasi, dan bentuk pengembangan diri lainnya yang menyebabkan sebagian dari kelompok perempuan terlemahkan. Perempuan juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan laki-laki, misalnya dalam kaitannya dengan kepentingan reproduksi, juga bagaimana cara pandangnya tentang membangun sebuah relasi.

Hal-hal ini dapat ini saling berkaitan dalam membentuk tingkat kerentanan perempuan. Secara sosiologis, perempuan sebagai bagian dari masyarakat sosial harus dapat beradaptasi dan menyesuaikan kultur masyarakatnya, bahkan ketika perempuan ingin mengubah suatu tatanan masyarakat pun, ia akan melebur dengan kondisi masyarakat yang pada sebagian kelompok/wilayah masih diskriminatif, penuh stereotip, dan patriarkis terhadap perempuan.
Tidak terkecuali dalam ruang-ruang akademisi, kampus, organisasi, hingga komunitas.

Perilaku-perilaku diskriminatif, stereotip, atau dapat juga dikatakan ‘tidak ramah perempuan’ masih banyak ditemui. Tidak memandang pelaku adalah seorang guru besar, mahasiswa berprestasi, ketua organisasi, hingga seorang alim. Pada kondisi, posisi, hingga kesempatan tertentu, pelecehan sangat mungkin terjadi.

Kekerasan Seksual di Ranah Komunitas

Komunitas menjadi wadah untuk berserikat dan berkumpulnya sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Dalam prosesnya, akan membentuk hubungan pertemanan yang dekat dan terjalin kesolidan antar lawan jenis, laki-laki dan perempuan, maupun antar sesama jenis, bagi komunitas yang anggotanya terdiri khusus laki-laki atau khusus perempuan saja

Soliditas ini, kalau tidak dikendalikan, tanpa disadari, akan membentuk gurauan, candaan. Yang bahkan, bagi sebagian dengan tidak sadar melontarkan hal-hal yang bersifat sexies dan mengarah pada bullying.

Ungkapan-ungkapan yang mengandung unsur pelecehan pun akhirnya menjadi sesuatu yang biasa. Dari ungkapan bergeser ke sentuhan fisik dengan saling bersalaman, pukulan yang ringan, berubah menjadi perbuatan tidak menyenangkan, hingga pelecehan seksual.

Maka, dengan demikian, setiap komunitas memiliki kesepakatan-kesepakatan, batasan-batasan, aturan-aturan, hingga kode etik yang dibuat bersama, untuk menciptakan interaksi yang menjunjung tinggi norma-norma di masyarakat. Juga, untuk mewujudkan tujuan organisasi sebagaimana dikehendaki bersama.

Berdasarkan Catahu Komnas Perempuan yang dirilis tertanggal 6 Maret 2020. Pada ranah publik dan komunitas kekerasan terhadap perempuan tercatat 3.602 kasus. 58% kekerasan terhadap perempuan di Ranah Publik atau Komunitas adalah Kekerasan Seksual yaitu Pencabulan (531 kasus), Perkosaan (715 kasus) dan Pelecehan Seksual (520 kasus). Sementara itu persetubuhan sebanyak 176 kasus, sisanya adalah percobaan perkosaan dan persetubuhan.

Pelaku Kekerasan Seksual pada Ranah Komunitas

Catahu 2020 dengan tiga peringkat dari teratas, terdiri dari orang tidak dikenal sejumlah 756 kasus, tetangga 559 kasus, dan teman sebanyak 463 kasus. Berbeda pada tahun lalu, di mana pelaku kekerasan tertinggi adalah teman.

Angka tersebut di atas adalah yang tercatat melaporkan. Sedangkan, kita bisa asumsikan seberapa menumpuknya kasus yang tidak tercatat. Alih-alih penyintas juga mempertimbangkan satu hal dan yang lainnya, termasuk karir dan masa depannya.

Kasus Kekerasan Seksual dalam Perspektif Media

Pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual ini memang jarang ditemukan di media massa. Sebab, hal itu dimaksudkan agar melindungi penyintas dari dampak psikis yang berkepanjangan, berikut kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Sehingga, lebih banyak kasus yang terjadi penyelesaiannya melalui lembaga-lembaga yang terkait, dengan tindak lanjut berupa pendampingan.

Bahkan untuk menunjukkan itikad pendampingan terhadap penyintas saja harus melalui izin dari kuasa hukum, pendamping dari lembaga yang menangani, dan protokol-protokol perolehan informasi lainnya.
Proses-proses yang demikian, tentu dibenarkan oleh lembaga-lembaga pendampingan kasus-kasus kekerasan seksual. Tujuannya untuk menyembuhkan proses healing pada penyintas setelah memberi ruang bagi rasa keadilan penyintas.

Belum lagi, dewasa ini, kita dihadapkan dengan era informasi yang tumpah ruah dan tak terbendung. Setiap orang, setiap komunitas dapat memunculkan narasi dengan perspektifnya masing-masing. Prinsip-prinsip jurnalistik yang berimbang, aktual, dan faktual akhirnya tidak terpenuhi.

Yang terjadi hari ini, satu narasi, dapat memunculkan seribu narasi, berikut spekulasinya masing-masing. Kemudian, apakah ini tidak berdampak terhadap penyintas? Tentu sangat berdampak. Sehingga, sebagai pemberi informasi yang bijak dan sebagai pembaca yang budiman, kita dapat menunjukkan kepedulian, dengan cara yang memprioritaskan perlindungan bagi penyintas.

Perlunya Tindakan Tegas

Kasus seperti ini tidak bisa dibiarkan dengan pembiaran. Bahkan di beberapa kasus, proses healing untuk pemulihan penyintas membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sehingga, tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang baru terungkap setelah berapa bulan kemudian hingga berapa tahun kemudian.

Penyintas, perlu diberikan perlindungan hukum dengan jalan litigasi maupun nonlitigasi. Sampai dengan pertimbangan masa depan penyintas. Bahkan, beberapa kasus, pemberian sanksi pidana yang berat sekalipun tidak mampu mengubah kondisi penyintas yang telah menyandang sebagai penyintas. Penyelesaian dengan tindakan tegas ini memprioritaskan ruang secara memadai bagi rasa keadilan penyintas.

Membangun Kesadaran Organisasi Yang Kuat Melawan Kekerasan Seksual

Komunitas dalam hal ini adalah organisasi merupakan wadah yang dituju orang dan sekelompok orang untuk proses pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Bentuk perwujudannya tentu dilaksanakan dengan mematuhi kaidah-kaidah organisasi yang sesuai dengan prinsip nilai-nilai beragama dan norma-norma di masyarakat.

Organisasi harus mampu mempersiapkan diri pada upaya ‘risk society’ dengan menekankan pentingnya membangun pemahaman, kesadaran dan penguatan untuk berkomitmen melawan kasus kekerasan seksual. Organisasi perlu mewujukan ini kedalam bentuk aturan/mekanisme/protokol penyelesaian permasalahan kekerasan seksual dan eksploitasi seksual. Termasuk kasus-kasus yang terjadi di Internal organisasinya.

Kaidah organisasi tanpa penerapan tak ubahnya slogan yang terpasang di jalanan, pembiaran atas nama organisasi hanya akan menambah celah untuk kasus yang serupa terulang kembali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *