oleh

Naufal Dunggio, Anda Ini Siapa? Mengapa Narasimu Selalu Negatif Terhadap Muhammadiyah?

-Opini-123 views

Ada yang kenal Dunggio? Saya amati sejak lama sampai sekarang kok semakin tidak beretika. Selalu bikin narasi negatif dan memalukan sekali, apalagi merendahkan PP Muhammadiyah. Saya tidak dekat dengan elit2 Muhammadiyah, bahkan saya yakin banyak diantara mereka yang tidak kenal saya. Tapi tidak seperti itu caranya memberi kritik kepada pimpinan.

Dunggio, Benarkah Anda ini orang Muhammadiyah? Atau Anda hanya penyusup di Muhammadiyah?

Sejak kapan sih Anda aktif di Muhammadiyah? Sejak di mana? Kok ada orang Muhammadiyah model begini? Apa kurang kerjaan atau bahkan nggak punya pekerjaan sehingga sempat-sempatnya bikin narasi dan berpikiran norak seperti itu?

Apakah Anda masih kurang pekerjaan? Silahkan datang ke daerah saya, nanti saya carikan pekerjaan, yang lebih bermartabat. Mungkin dengan pekerjaan itu Anda bisa lebih tenang dan bisa menulis sesuatu yang lebih bermanfaat untuk ummat yang pastinya sejalan dengan Khittah Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang berkemajuan.

Dunggio siapa sebenenarnya kamu? Kenapa kamu selalu bikin ulah. Malu saya jadi orang Muhammadiyah melihat ada yang ngaku Ketua Lembaga terhormat di Wilayah, tapi tabi’atnya begitu. Apa prestasimu di Lembaga yang kamu pimpin itu? Dungio, siapa yang menyuruh kamu, janganlah rusak Muhammadiyah dengan narasi-narasi negetifmu.

Jika tidak nyaman dengan gaya dakwah Muhammadiyah, pilih saja organisasi dakwah yang lain, keluar saja dari Muhammadiyah secara jentel (kesatriya). Jangan merusak dari dalam dengan pakai embel2 jabatanmu di Muhammadiyah. Apa kamu tak tahu konsep bil hikmah dalam berdakwah? Katanya kamu Ketua Lembaga Dakwah Khusus, mestinya tahu cara berdakwah dengan hikmah..

Muhammadiyah itu organisasi, bukan gerombolan orang sak geleme dewe. Muhammadiyah punya pimpinan, punya aturan main, punya cara dan strategi bergerak yang selayaknya dipatuhi. Muhammadiyah punya garis tugas, menggembirakan banyak orang. Lha, ini Anda malah gak paham tentang itu semua, membuat narasi yang seakan-akan menjadi suara Persyarikatan. Padahal itu suara pribadi Anda sendiri.

Apakah Anda kecewa dengan Muhammadiyah atau dengan orang2 di Muhammadiyah? Kalau kecewa dan jengkel, bukan begitu caranya. Ada cara yang elegan… Atau, Anda mundur saja dari organisasi, bikin lembaga dakwah sendiri, itu akan lebih terhormat. Jangan mengatasnamakan lembaga Muhammadiyah dalam setiap tulisan Anda.

Jika Anda masih sayang dengan Muhammadiyah dan tunduk patuh pada garis organisasi, silahkan membangun narasi yang sejalan dengan garis Persyarikatan, ummat tengahan. Anda tentu bisa menulis yang lebih menyejukkan dan membuat hati banyak orang gembira. Apalagi Anda mengaku sebagai seorang ketua di sebuah lembaga resmi Muhammadiyah.

Jika Anda ketua berarti Anda selayaknya menjadikan putusan organisasi sebagai panduan, bukan malah mencela dan membangun narasi yang penuh kebencian. Jika Anda memang bagian dari Persyarikatan, selayaknya Anda membantu organisasi agar semakin kuat, bukan malah sebaliknya membangun narasi yang melemahkan.

Meskipun saya tahu bahwa Semua warga persyarikatan akan selalu waspada dengan narasi adu domba seperti ini, namun saya tetap harus sampaikan ini kepada Anda, wahai Dunggio, karena Anda tidak mencerminkan sikap sebagai pimpinan Muhammadiyah yang membawa nama sebagai Ketua Lembaga Dakwah Khusus. Sedih sekali di Muhammadiyah ada orang seperti ini: kasar bahasamu.

Dunggio, narasi Anda ini jelas bikin menambah pilu. Bangsa Indonesia sedang berjuang melawan Covid-19, semua sedang dalam tekanan, sedih, dan waswas. Persyarikatan ikut andil dalam perjuangan ini, kok malah membangun narasi remeh temeh, seolah-olah urusan cuti bersama itu menjadi kemenangan satu kelompok tertentu. Apalagi dengan menjelek-jelekkan pimpinan Muhammadiyah.

Cuti bersama yang diambil pemerintah tentu telah dipikir dengan matang. Jangan Anda menyalahkan seorang menteri yang kebetulan kader Muhammadiyah. Menggeser libur ke akhir Desember bukan berarti kekalahan umat Islam. Umat Islam akan tegak jika orang seperti Anda membangun narasi Islam yang bijak dan berkemajuan, yakni narasi yang tidak didasarkan pada kecurigaan dan menyalahkan orang lain.

Narasi kekalahan umat Islam yang Anda selalu serukan itu hanya menambah beban bangsa ini. Apakah dengan menggeser cuti hari raya kemudian Anda merasa kalah? Kemudian ada yang merasa menang?

Sekali lagi, tidak ada yang kalah dan menang dengan urusan cuti bersama ini. Mungkin Anda saja yang berpikiran negatif dengan setiap langkah orang lain. Ada baiknya Anda membaca buku-buku motivasi agar dipenuhi pikiran dan energi positif.

Bukankah di Islam kita diminta untuk selalu menjauhi prasangka?. Saya kira Anda tahu itu, tapi sayang Anda tidak mengamalkannya. Atau Anda mengabaikan itu untuk memuaskan syahwat kuasa yang anda miliki? Karenac saya melihat, yang ada dalam diri anda hanyalah prasangk-prasangka.

Dunggio, mari membangun Muhammadiyah ini dengan sikap kesatriya dan penuh kegembiraan. Bermuhammadiyah itu bergembira dan menggembirakan. Muhammadiyah menggembirakan semua ummat. Bergembira itu berarti selalu berpikiran positif, menebarkan energi positif. Salah satunya selalu berusaha menjadikan putusan organisasi sebagai kekuatan untuk berjamaah.

Dungio, sekali lagi sekiranya Anda masih sayang dengan Muhammadiyah, mari membangun narasi berkemajuan dengan cinta, bukan dengan penuh prasangka atau kebencian…. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa… menahan diri, termasuk menahan diri untuk menulis narasi-narasi negatif…

Salam dari Ngayogyakarta Istimewa..

HUSNI AMRIYANTO
(Solidaritas Orang Pinggiran untuk Muhammadiyah).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *