oleh

Pengurus Muhammadiyah Bukan Bertangan Besi, Tapi Tangan di Atas

-Opini-71 views

Oleh : Adis Setiawan*

Ada sebuah tulisan dari salah satu kader yang mengkritik Ayahanda Muhajir Effendi, sebagai Menko bidang pembangunan manusia dan kebudayaan yang juga salah satu pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Beliau menulis bahwa Ayahanda Muhadjir tidak bisa membawa akhlaq Muhammadiyah sebagai wakil dari Muhammadiyah dalam membantu pemerintahan. Tak lama kemudian penulis tersebut mendapat teguran dari pimpinan wilayah DKI.

Awalnya beliau menulis dengan judul “Salah Seorang Pimpinan Muhammadiyah Tidak Berdaya Islam di Permainkan”. Menganggap bahwa Pak Muhadjir salah satu kader Muhammadiyah yang lemah, karena ikut-ikutan terbawa pemikiran pemerintahan. Karena ikut mengumumkan cuti bersama Idhul Fitri di undur sampai bulan Desember. Penulis tersebut menganggap bahwa hal itu menyakiti umat islam, karena cutinya setelah natal.

Tentunya ini sangat di sayangkan, penulis tersebut tak mau menerima keputusan pemerintah soal diundurnya cuti bersama Idhul Fitri, justru menyalahkan Pak Muhadjir yang di kira lemah sebagai pemimpin yang mewakili umat islam.

Di undurnya cuti bersama idhul Fitri kan sampai bulan Desember, Yang penting Hari Raya Idhul Fitrinya kan tetap sama jatuh pada bulan Mei 2020 cuma beda tanggal liburnya saja kok sampai menyalahkan Ayahanda Muhajir Effendi.

Perbedaan tanggal seperti itu sudah biasa, terkadang Muhammadiyah dan pemerintah saja menentukan awal Ramadhan dan Idhul Fitri berbeda. Bedanya kan cuma tanggalnya saja puasanya sama, sholat Idhul Fitrinya sama. Iya kan.

Tidak salah juga kalau ketua pimpinan wilayah memberi teguran kepada salah satu kadernya yang menulis kritikan di umbar lewat media dengan bahasa yang kasar. Seharusnya sudah biasa kader Muhammadiyah mendapat teguran atau kritikan jangan baper. Justru beliau membuat tulisan lagi yang berjudul “Pengurus Muhammmadiyah Sudah Mulai Menjadi Tangan Besi”

Di dalam tulisanya mengatakan bahwa, belum tentu juga kalau mengritik pimpinan pusat berarti menjelekan Muhammadiyah. Menurut saya kritikan boleh saja Kepada Ayahanda Pak Muhajir seorang pimpinan pusat, Tetapi pakai cara organisasi yang telah di ajarkan.

Sekritik-kritiknya warga Muhammadiyah tidak akan menjelekan saudara seiman. Seperti yang sudah penulis tersebut katakan pada tulisanya ada kalimat “Bagai Kerbau di Cocok Hidungnya”, ” Baru kali ini ada kader yang lemah dan lembek seperti ubur-ubur bin ongol-ongol. Ini maksutnya apa.

Penulis tersebut tinggal di DKI dekat dengan gedung dakwah yang ada di Menteng Jakarta. Coba tabayyun dan beri kritik saran di situ. Atau jangan-jangan tidak kenal dekat dengan Ayahanda Muhajir. Sehingga untuk mengkritik lewat media sosial, iya memang sekarang zamanya media sosial orang boleh nulis kritikan lewat itu. Tetapi akhlak Muhammadiyah untuk mengkritik Ayahanda baiknya lewat jalur tabayyun atau datang ke gedung dakwah menteng secara organisatoris.

Tangan di Atas bukan tangan besi

Dalam sebuah riwayat yang shahih, Nabi Muhammad saw pernah memberikan perumpamaan pentingnya berderma. Bahwa tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah, yang maksudnya memberi itu lebih baik daripada menerima.

Muhammadiyah sudah lama melakukan gerakan filantropi yang diakuinya sebagai gerakan otentik Muhammadiyah dengan cara membesarkan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu). Gerakan filantropi itu sangat penting. Karena itu adalah gerakan otentik Muhammadiyah.

Muhammadiyah yang telah melakukan medernisasi manajemen Zakat, Infaq, Shodaqoh (ZIS) maupun wakaf. Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan sudah sejak awal telah melakukan gerakan filantropi dalam mengembangkan Penolong Kesengsaraan Umum (PKU).

Walaupun tangan di atas tidak selalu menandakan memberi, adakalanya tangan di bawah juga simbol memberi. Misalnya, orang memberi rokok yang memberi itu tanganya dibawah sambil menyodorkan bungkus rokok, sementara yang minta ambil dari atas.

Jadi spirit kader muhammadiyah adalah tangan di atas, bukan tangan besi. Karena gerakan filatropi sudah dianggap sebagai gerakan otentik oleh Muhammadiyah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

*Penulis adalah AMM Kabupaten Bekasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *