oleh

PP IPM dan Aktivis Pelajar Menanti Kehadiran Kemendikbud

KABARMU.CO, JAKARTA – Pimpinan Pusat IPM menggelar acara Simposium Nasional Pelajar Indonesia dan launching logo Milad IPM ke 59 melalaui aplikasi Zoom Metting pada hari senin (8/9) pukul 19.00 WIB yang dihadiri pelajar Muhammadiyah mulai dari Zoom, Live Instgram dan Live Youtube PP IPM. Zulmi selaku Ketua Pelaksana mengkonfirmasi Pada tim Kabarmu.co bahwa peserta berjumlah sekitar 850 kader dan Ia juga mengatakan “ acara ini tidak hanya simposium mengkritisi kebijakan namun juga ajang silaturahmi untuk semua kader IPM, dalam kesempatan ini saya sangat terharu dan senang karena bisa berkumpul kader IPM se-Indonesia”. Bahkan pada kesempatan ini PP IPM mengajak seluruh lapisan poros pelajar setingkat nasional antara lain para ketua umum IPNU, IPPNU, PII, Ikatan Pelajar PERSIS, Ikatan Pelajar PERSIS Putri, GSNI, IPNW, dan Ikatan Pelajar Al Washliyah untuk memberikan pernyataan dan diskusi terkait New Normal dalam aspek pendidikan dan pelajar.
Melalui acara ini pula PP IPM dan ketua umum lainya memberikan pernyataan tentang bagaimana nasib para pelajar beberapa waktu belakangan ini dan setelah new normal ini. Tema yang diangkat pada simposium ini adalah “merdeka belajar, Kemendikbud dicari banyak orang?” yang dimoderatori oleh Abid selaku Kabid Advokasi PP IPM memulai pengantarnya” diskusi ini membedah daya pandang para aktivis pelajar lewar delegasi para ketua umum organisasi dan mengkritisi kebijakan pendidikan yang belum dirasakan penuh oleh pelajar sendiri. Merdeka belajar yang di gaungkan oleh Mas Menteri rupanya secara praktis menjadikan tidak merdeka belajar karena terbatasnya media daring sehingga tidak bisa menjangkau pelajar dibeberapa daerah yang artinya fasilitas pendidikan belum merata dan menomersekiankan persoalan pendidikan”.

Melalui pernyataanya dalam simposium tersebut Ketua Umum PP IPM mengatakan bahwa IPM, “mengajak bersama-sama para ketua umum untuk gerak bersama dengan mengawal protokol kesehatan di sekolah kemudian mengawal peran pelajar yang dimana hari ini pemerintah tidak hadir dan kemana? Padahal pendidikan belum merata, kemudian kelas daring hanya bisa di akses bagi mereka yang memiliki gawai saja”. Ujar Hafiz yang juga Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.
Hal senada juga di sampai kan para ketua umum poros pelajar seperti disampaikan ketua IPNU “tagar Indonesia terserah merupakan refleksi bersama atas keadaan dan perlu perhatian khususnya pada persoalan pendidikan”. Begitu juga dengan narasumber lainnya yang berfokus kepada bagaimana pemerataan pendidikan, akses pendidikan yang layak, keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan yang hari ini sering dikesampingkan.
Kemudian Ipmawan Hafiz mengatakan dalam closing statementnya pembangunan manusia adalah melalui pendidikan dan negara harus hadir pada segem ini pada masa transisi yang tidak ada kejelasan ini. Pelajar digerus pada pendidikan dan tidak bisa mengikuti pendidikan Ia juga berpesan kepada seluruh pelajar Muhammadiyah “mari berkarya dan peduli sesama baik secara lisan, tulisan. Melalui karya New Reality aksi real pelajar maka bonus demografi bisa jadi malapetaka jika tidak disapkan dengan baik”. (Alb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *