oleh

PP IPM dan Poros Pelajar ajak surati Kemenkeu soal cukai rokok

KABARMU.CO, Jakarta – Pimpinan Pusat IPM melalui TC IPM (Tobacco Control IPM) yang terus konsisten dalam perjuangan melawan rokok khususnya bagi pelajar untuk masa depan pelajar yang lebih baik. Pada webinar dengan tema “Harga murah, akses mudah, rokok ancam masa depan pelajar” (30/09) yang juga mengajak Roosita MD dari ITB AD kemudian Abdul Gani selaku Ketua Umum DPP GSNI serta diadakan pula konferensi pers terkait hal tersebut yang disampaikan oleh para ketua organisasi pelajar antara lain, Hafiz Syafa’aturahman (Ketum PP IPM), Nuruh Hidayatul.U (Ketum IPPNU), Husin Tasrik (Ketum PB PII), Abdul Gani (Ketum DPP GSNI), Zahid Ramadhan (Ketum PP IPNW), Luthfi Anbar.F (Ketum PP Ikatan Pelajar PERSIS Putri).

Dalam konferensi persnya Kebijakan pemerintah belum memiliki komitmen sepenuhnya dalam melindungi kesehatan khususnya para pelajar sebagai usia produktif. Salah satu kebijakan yang belum dilakukan pemerintah dalam mencerminkan keberpihakan dengan masih terjangkaunya harga rokok dan akses mendapatkan rokok dengan mudah. Prevalensi perokok anak yang terus meningkat nampaknya belum menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Perokok usia 10-18 tahun meningkat dari 7.2% menjadi 9.1% dari tahun 2013 ke 2018. Harga yang terjangkau dan akses mendapatkan rokok dengan mudah menyebabkan generasi untuk memulai merokok dan menjadi perokok baru.

Kita memiliki potensi bonus demografi, hal ini berharap lahir generasi yang unggul dan sehat. Peluang menikmati Bonus Demografi yang hanya akan terjadi sekali seumur sebuah negara tentunya tidak boleh disia-siakan, dan hanya akan tercapai jika generasi muda terlindungi dari zat berbahaya dan mampu tumbuh sesuai potensinya secara maksimal. Tetapi jika harga rokok murah dan mudah didapatkan akan meningkatkan prevalensi perokok pemula, maka harapan pemerintah untuk mendapatkan bonus demografi akan menjadi bencana demografi. Akan lahir generasi candu pada zat adiktif yang dapat menimbulkan sakit dan tidak produktif.

Pravelensi merokok lebih rendah dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan mengurangi angka kematian karena perilaku merokok. Peningkatan cukai dan harga rokok membuat pravelensi perokok muda khususnya para pelajar sulit mendapatkan akses rokok  karena selama ini harga rokok yang terjangkau dan mudah didapatkan.

Maka menaikkan harga rokok adalah sebuah keharusan untuk mengurangi prevalensi perokok pemula. Namun yang lebih penting dari itu juga adalah kenaikan yang signifikan yang berpengaruh terhadap keterjangkauan harga rokok bagi generasi muda. Berdasarkan perhitungan para ekonom kenaikan tariff cukai minimal 25% akan efektif untuk mengurangi keterjangkauan harga rokok. Oleh karena itu pemerintah harus terus meningkatkan harga rokok tidak kurang dari jumlah presentase ini.

Maka melalui momentum ini kami mendorong Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo, Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati untuk menaikkan tariff cukai dan menaikkan harga rokok guna mencapai target pemerintah untuk menurunkan prevalensi perokok muda dan menyelamatkan generasi muda Indonesia. Pada momentum ini kita juga mengajak seluruh pelajar dengan sadar dan terbuka membuat surat yang ditujukkan kepada Presiden Joko Widodo dan Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan untuk menaikkan harga rokok demi melindungi pelajar. Harga rokok yang terjangkau dan mudah didapatkan akan mengancam satu generasi yang harusnya produktif malah menjadi sakit dan pravelensi perokok pemula meningkat. Dengan menaikkan harga rokok berarti pemerintah serius untuk melindungi generasi.

Kemudian poros pelajar sepakat untuk gerakan bersama menyurati kemenkeu untuk meminta menaikkan cukai rokok yang berdampak pada naiknya harga rokok dan mempersulit terjangkaunya rokok untuk pelajar serta menghimbau kepada seluruh kader di masing-masing organisasi untuk berkirim surat yang ditujukkan kepada kemenkeu. Poros pelajar juga sepakat mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membangun kualitas geenerasi muda dalam hal ini kesehatan sebagai modal dasar produktifitas.

Serta Hafizh selaku Ketua Umum PP IPM menyampaikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah meminta komitmen pemerintah dalam menaikkan harga rokok sebagai bentuk keberpihakan dan perlindungan terhadap pelajar, melalui beberapa hal :

  1. Meningkatkan tarif cukai tembakau rata-rata sebesar minimum 25% setiap tahunnya guna menaikkan harga rokok sehingga tidak terjangkau oleh anak muda dan bisa efektif mengurangi prevalensi perokok pemula yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia.
  2. Mempersempit akses anak-anak dan generasi muda dari pembelian rokok dengan menerapkan larangan penjualan rokok secara ketengan, menerapkan pembatasn umur pembelian merokok dan melarang display rokok di tempat penjualan.
  3. Menyederhanakan struktur tarif cukai hasil tembakau agar perbedaan harga rokok yang termurah dan termahal tidak terlalu jauh sehingga bisa mengurangi konsumsi rokok sperti yang diinginkan, Ini juga bisa mengurangi keterjangkauan harga dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi bagi pemerintah. (Alb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *