oleh

PP IPM: Jangan Anggap Remeh Pendidikan

KABARMU.CO, JAKARTA – Dalam beberapa pekan terakhir ini publik dihebohkan dengan munculnya proses seleksi Progam Organisasi Penggerak (POP) dari Kemendikbud ada sektiar 150 lembaga atau ormas yang lolos seleksi namun di lihat secara daftar memang ada yang janggal karena beberapa perusahaan besar juga mendapatkan proyek ini bahkan ada juga lembaga yang memang tidak ada kejelasan secara organisasi mendapatkan dana hibah dari proyek ini.

Majelis DIKDASMEN PP Muhammadiyah yang lolos sleksi menarik diri dari progam tersebut dengan alasan, Persyarikatan Muhammadiyah sudah banyak membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan sejak sebelum Indonesia merdeka sehingga tidak pantas di sandingkan organisasi masyarakat yang sebagian besar baru muncul beberapa tahun terakhir. Kemudian, kriteria pemilihan ormas dan lembaga pendidikan yang ditetapkan lolos evaluasi proposal sangat tidak jelas dan tidak transparan. Terakhir, Muhammadiyah akan tetap membantu pemerintah dan tetap berkomitmen untuk meningkatakan pendidikan dengan berbagai pelatihan, kompetensi kepala sekolah serta guru sekalipun tanpa keikutsertaan kami dalam Progam Organisasi Penggerak (POP). Tidak hanya PP Muhammadiyah hingga saat ini NU dan PGRI pun mengikuti jejak Muhammadiyah dalam mengambil sikap atas progam yang tidak beres ini.(25/7)

Menyikapi hal tersebut tim Kabarmu.co menemui Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) Hafiz Syafaatur’rahman yang sejak acara Seminar Nasional Progam Pendidikan Reguler Lemahanas RI sudah berkomentar tentang lemahnya pendidikan di Indonesia dan sikap Kementrian Pendidikan yang terkesan tidak serius dalam membangun progam ditengah pandemi Covid-19 sehingga banyak kesenjangan sosial yang terjadi.

Tidak hanya soal pendidikan yang tidak merata Hafiz juga mengkritisi persoalan Progam Organisasi Penggerak (POP) “nampaknya Mas Nadiem tidak melihat sejarah, bagaimana Persyarikatan Muhammadiyah sudah terbukti mencerdaskan kehidupan bangsa sudah satu abad lebih lamanya bahkan dari Muhammadiyah banyak tokoh-tokoh penggerak kemerdekaan yang berjuang untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia. Muhammadiyah yang memiliki 30.000 satuan pendidikan sejak 1912 merupakan bukti nyata sehingga tidak sepantasnya Muhammadiyah di sejajarkan dengan ormas yang baru dibikin atau ormas yang tidak jelas kiprahnya,” ujarnya.

Kemudian Hafiz yang merupakan Mahasiswa S2 Manejemen Pendidikan di UNJ ini mengatakan “ perushaaan atau korporasi yang besar pun mendapat sokongan dana yang memang seharusnya tidak perlu mendapatkan uang pemerintah, perusahaan seperti rokok dan perushaan CSR lainya harusnya tidak terlibat dalam hal ini. Bahkan menurut saya pihak KEMENDIKBUD harus lebih ketat lagi dalam proses penseleksian mulai dari badan hukum ormas tersebut sampai kepada kantornya, siapa tahu hanya berbentuk rumah kosong dan tidak berpenghuni.”

Hafiz juga menyoroti mutu pendidikan serta bekerja sama dengan pihak yang jelas sepak terjangnya di dunia pendidikan sehingga menumbuhkan produk lokal yang mempuni “Mas Menterii jangan fokus membangun kerjasama dengan media-media flat form penyaji film-film saja (Netflix) tetapi perlu kerjasama dengan konten kreator atau PH (produsen house) asli indonesia yg terdampak Covid-19 yang asli indonesia dan menggandeng guru-guru honorer kreatif yang bisa menyediakan konten kreator.”

Menyoroti hal ini memang menjadi persoalan yang memicu pergolakan beberapa organisasi masyarakat yang sejak dulu konsen terhadap pendidikan, perlu kiranya Mas Nadiem ditengah pandemi yang seperti ini dan progam pendidikan daring yang tidak efektif karena dikawasan 3T mereka tidak memiliki akses internet yang serharusnya menjadi fokus utama, bukan berbagi uang kepada korporasi besar atau ormas tidak jelas “mending uang dari progam miliyaran ini untuk guru honorer yang hari ini terdampak kepada Covid-19, memberikan akses buku-buku di kawasan 3T, membangun infrastruktur sekolah-sekolah untuk layak pakai serta beasiswa bagi pelajar yang berprestasi yang ada di pedesaan,” ungkap Hafiz. (Alb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *